Oleh: Suluh Pamuji
Bayangkan sebuah ruang gelap. Di depannya, layar besar terpasang seperti cermin yang memantulkan dunia lain. Suara samar menggetarkan udara, dan perlahan, emosi mulai bergulir di antara kursi-kursi yang dihuni manusia dengan ekspektasi. Mereka datang membawa harapan: untuk sesaat keluar dari dunia ini dan memasuki dunia lain. Tapi bagaimana memastikan perjalanan itu terjadi secara istimewa?
Ekshibisi adalah ruang temu antara film dan penonton. Bukan sekadar proyeksi gambar yang bergerak atau rangkaian bunyi yang mengiringinya. Ia adalah cara menggerakkan batin, cara membuka pintu menuju pengalaman yang lebih luas. Tugas ini, yang sering direduksi menjadi sekadar persoalan teknis, sesungguhnya adalah seni yang membutuhkan presisi dan sensitivitas.
Sering terdengar anggapan bahwa siapa saja bisa menjadi seorang ekshibitor. Bukankah itu hanya soal memutar film di layar besar, menyetel proyektor, dan memastikan semua berjalan lancar? Tapi, sejenak mari kita pikirkan kembali. Setiap pemutaran film adalah serangkaian pilihan: bagaimana pencahayaan memengaruhi suasana, bagaimana intensitas suara membawa kedalaman emosi, hingga bagaimana ruang—dengan segala batas fisiknya—bertransformasi menjadi perpanjangan dari cerita di layar. Ini bukan pekerjaan asal-asalan. Ini bukan hanya soal menekan tombol play.
Maka, seorang ekshibitor sejati bisa disamakan dengan seorang anggota pasukan khusus—dilatih untuk misi tertentu, dengan keahlian yang terasah untuk tugas yang spesifik. Tidak sembarang orang bisa membaca irama emosi penonton, memilih musik yang menyatu dengan atmosfer, atau merancang pengalaman menyeluruh dari detik pertama hingga terakhir. Ini adalah seni dialog antara film dan ruang, ruang dan penonton, yang tak bisa diukur dengan angka atau didefinisikan lewat prosedur baku.
Namun, dalam dunia yang semakin tergesa-gesa ini, kita terbiasa dengan generalisasi. Ada keyakinan bahwa semua orang bisa melakukan segalanya, selama ada panduan atau teknologi yang mempermudah. Pada beberapa sektor, pendekatan ini mungkin cukup. Tapi dalam ekshibisi, tidak. Ia menuntut lebih dari sekadar keterampilan dasar. Menjadi spesialis di bidang ini berarti memahami seluk-beluk ruang, cahaya, dan suara—bagaimana elemen-elemen tersebut saling berbicara, saling mendukung, menciptakan pengalaman yang mengikat batin penonton.
Memasuki ekshibisi tanpa pemahaman mendalam seperti menghidangkan makanan tanpa tahu cara meracik rasa atau menyajikan suasana. Hidangan terbaik bukan hanya tentang rasa, tetapi juga cara penyajiannya: bagaimana cahaya menyorot piring, bagaimana alunan musik mendukung rasa. Begitu pula ekshibisi. Ia adalah seni merancang suasana hati, mengorkestrasi elemen yang tak kasatmata namun memengaruhi jiwa. Inilah seni yang melampaui tombol play.
Di masa depan, ketika dunia semakin kompleks dan menuntut efisiensi, era generalis mungkin akan segera berlalu. Spesialisasi menjadi cara untuk bertahan, bukan sekadar untuk menjadi unik, tetapi untuk memastikan daya saing yang relevan. Jika ekshibisi adalah panggilan kita, maka itu berarti terus-menerus mengasah keahlian, menggali lebih dalam, menciptakan standar yang tidak hanya relevan tetapi juga tak tergantikan. Karena, di masa depan, mungkin dunia sudah tak lagi memberi ruang bagi mereka yang hanya tahu sedikit tentang banyak sekali hal.



