Oleh: KDM CINEMA
Ketika berbicara tentang masa depan sinema, kita sering terjebak pada teknologi terbaru. Layar lebih besar, resolusi lebih tinggi, platform lebih cepat. Namun masa depan menonton tidak pernah ditentukan oleh satu faktor.
Yang berubah bukan hanya alat, tetapi praktik. Cara kita berkumpul, berbagi ruang, dan memberi waktu pada film terus bergeser. Di tengah perubahan ini, pertanyaan pentingnya bukan “apa yang akan datang?”, melainkan “apa yang ingin kita pertahankan?”
Ruang fisik mungkin semakin terbatas, tetapi kebutuhan akan pengalaman bersama tidak hilang. Justru di tengah individualisasi, praktik menonton kolektif menjadi semakin relevan.
Masa depan sinema tidak harus homogen. Ia bisa berlapis: platform digital, ruang alternatif, pemutaran komunitas, dan festival hidup berdampingan. Tantangannya adalah menjaga agar keberagaman ini tetap punya ruang.
Forward, dalam konteks ini, bukan soal berlari ke depan. Ia adalah soal memilih arah—dengan sadar, perlahan, dan berpijak pada praktik yang sudah ada.


