Oleh: KDM CINEMA
Kredit film bergulir. Lampu menyala. Sebagian orang beranjak, sebagian lain masih duduk. Ada yang ingin segera pulang, ada yang ingin berbicara, ada pula yang memilih diam. Mungkin di situlah momen pause sebenarnya terjadi.
Kita sering terbiasa menganggap film selesai saat durasinya berakhir. Namun pengalaman menonton tidak selalu mengikuti logika itu. Ada film yang baru terasa beberapa jam kemudian. Ada yang baru mengganggu pikiran beberapa hari setelahnya. Ada pula yang tidak pernah benar-benar selesai.
Pause bukan berarti berhenti total. Ia adalah jeda untuk memberi waktu. Waktu bagi penonton untuk mencerna, menolak, atau bahkan tidak memahami apa yang baru saja ditonton. Dalam jeda itu, film bekerja dengan caranya sendiri.
Di ruang pemutaran alternatif, pause menjadi bagian penting dari praktik menonton. Tidak semua film harus segera dibahas. Tidak semua pengalaman perlu dirumuskan. Kadang, justru dengan membiarkan pertanyaan menggantung, film mendapatkan ruang untuk hidup lebih lama.
Pause juga mengingatkan kita bahwa menonton tidak selalu produktif dalam arti cepat. Tidak ada kewajiban untuk langsung “mengerti”. Sinema memberi kita izin untuk ragu, bingung, atau tidak sepakat.
Mungkin yang perlu kita lakukan setelah film selesai bukan mencari jawaban, melainkan memberi waktu. Karena di antara durasi film dan ingatan penonton, selalu ada ruang yang tidak bisa dipaksakan.


