Oleh: KDM CINEMA
Ada film yang terasa biasa saat pertama kali ditonton, lalu berubah ketika diputar ulang. Bukan karena filmnya berganti, melainkan karena kita yang berubah.
Menonton ulang membuka kemungkinan baru. Detail yang terlewat muncul ke permukaan. Adegan yang dulu terasa lambat kini justru memberi ruang. Konteks sosial, pengalaman pribadi, bahkan suasana ruang menonton ikut membentuk pembacaan baru.
Dalam program kuratorial, pemutaran ulang bukan tanda kekurangan stok film. Ia adalah praktik membaca ulang. Film diperlakukan sebagai teks terbuka—selalu siap ditafsirkan ulang sesuai waktu dan penontonnya.
Replay juga menantang gagasan bahwa pengalaman menonton bersifat final. Tidak ada pembacaan tunggal. Tidak ada makna yang selesai. Yang ada adalah proses yang terus bergerak.
Mungkin itulah sebabnya beberapa film justru hidup lebih lama dari masa edarnya. Mereka bertahan karena terus diputar ulang—secara harfiah maupun dalam ingatan.


