Oleh: KDM CINEMA
Ada momen ketika kita menyadari bahwa menonton film tidak sesederhana duduk, menatap layar, lalu pulang. Momen itu sering datang bukan dari film yang “besar”, tetapi dari pengalaman kecil: diskusi setelah pemutaran, obrolan di luar ruang, atau bahkan diam yang terasa lebih panjang dari durasi film itu sendiri.
Dalam konteks hari ini, menonton sering direduksi menjadi aktivitas individual. Film hadir sebagai konten—dipilih, diputar, ditinggalkan. Tombol play menjadi awal dan akhir dari pengalaman. Padahal, dalam praktik sinema, menonton selalu melibatkan lebih dari itu: ruang, waktu, dan relasi dengan penonton lain.
Di ruang pemutaran alternatif, film tidak berdiri sendiri. Ia diposisikan, dipertemukan, dan diberi konteks. Film yang sama bisa terasa berbeda ketika ditonton bersama orang lain, di ruang yang memungkinkan percakapan, atau dalam program yang dirancang dengan intensi tertentu. Di situlah menonton berubah menjadi pengalaman.
Bagi pembuat film, momen ini sering menjadi titik balik. Film yang sebelumnya hanya hidup di layar pribadi, tiba-tiba mendapatkan respons yang tidak terduga. Tawa di bagian yang tak direncanakan. Hening yang terasa berat. Pertanyaan yang muncul setelah kredit selesai. Penonton tidak lagi pasif; mereka ikut membentuk makna.
Menonton, dalam pengertian ini, bukan aktivitas konsumsi. Ia adalah praktik. Praktik yang berulang, berubah, dan selalu terbuka untuk dibaca ulang. Tombol play mungkin penting, tetapi ia hanyalah pintu masuk. Yang membuat sinema hidup justru apa yang terjadi setelahnya.



