STOP: Ketika Layar Menyempit, Apa yang Sebenarnya Hilang?

Oleh: KDM CINEMA

 

Dalam beberapa tahun terakhir, akses menonton film memang terlihat semakin mudah. Namun di balik kemudahan itu, layar justru semakin menyempit—baik secara fisik maupun pilihan.

Monopoli distribusi, dominasi platform besar, dan logika algoritma telah membentuk cara kita menonton. Film dipilihkan, bukan dicari. Penonton diarahkan, bukan diajak berpikir. Dalam sistem ini, keberagaman sering kali menjadi slogan, bukan praktik.

Ruang pemutaran alternatif hadir sebagai respons terhadap kondisi ini. Bukan sebagai tandingan total, tetapi sebagai pengingat bahwa sinema tidak hanya hidup di pasar. Ketika ruang-ruang kecil ditutup atau terpinggirkan, yang hilang bukan sekadar tempat menonton, melainkan kemungkinan pertemuan dan percakapan.

Masalahnya bukan teknologi, melainkan konsentrasi kuasa. Ketika satu model distribusi mendominasi, praktik lain perlahan dianggap tidak relevan. Padahal, ekosistem yang sehat justru membutuhkan keberagaman cara produksi, distribusi, dan ekshibisi.

Stop di sini bukan ajakan untuk menolak perubahan. Ia adalah ajakan untuk mempertanyakan arah. Siapa yang diuntungkan? Siapa yang tersisih? Dan praktik apa yang perlu dilindungi agar sinema tidak kehilangan kompleksitasnya.

Tanpa ruang alternatif, sinema berisiko menjadi sekadar arus. Dan arus, tanpa belokan, hanya akan membawa kita ke tempat yang sama.

Artikel Lainnya